BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.      Latar Belakang

Penulis memilih tema pembentukan, kemajuan dan kemunduran Dinasti Salajiqah pada makalah ini, karena disamping mengandung arti dan masalah komplek yang perlu dicermati dan membutuhkan kreatifitas dalam memecahkannya, tetapi juga dengan adanya pengkajian ini diharapkan akan memunculkan pemikiran-pemikiran baru yang bermanfaat bagi eksistensi pendidikan dalam bidang agama, khususnya pada studi sejarah peradaban islam. Tentunya hal itu akan memperkaya pengetahuan kita tentang segala hal yang menyangkut studi sejarah peradaban islam, baik dimasa lampau maupun dimasa yang akan datang.

Salajiqah atau Saljuk adalah sekumpulan suku Ogus (Turki) dari Asia Tengah yang berhasil membangun sebuah kekuasaan besar pada abad ke-11 di Asia Barat, termasuk Iran, Mesopotamia, palestina, siria dan Asia Kecil. Bermula dari munculnya seorang Oqus bernama Saljuk, sekelompok Ogus pada akhir abad ke10 mengembara ke hilir sungai Jaxartes, dan menetap di dekat Bukhara. Di kawasan ini mulailah mereka mengenal kekuasaan dinasti Samani.mungkin karena perhubungan yang semakin baik, terutama dengan mesuknya kelompok Oguz ini ke dalam Islam, penguasa Samani mengangkat Saljuk rupanya terus dijalankan bahkan setelah dinasti Gazhnawi menggantikan peranan Samani semenjak 999 (390 H). bagaimanapun baru setelah munculnya dua orang cucu Saljuk, Caghri Beg dan Teghril Beg, keluarga Saljuk secara jelas menampakkan kekuatan mereka, khurasan hampir secara penuh jatuh ke tangan Caghri.

Toghril Beg menjadi terkenal karena hubungannya dengan Khalifah di baghdad. Setelah melemahnya kekuatan Bani Buwaih di Persia, pada 1055 (447 H) Toghril memasuki Baghdad menyingkirkan pengaruh Buwaih yang Syi’ah dari istana Khalifah. Tindakan Toghril disambut secara hangat oleh Khalifah al Qaim yang kemudian menganugerahkan gelar sultan kepadanya. Sampai dengan meninggalnya pada 1063 (455 H), Toghril telah mampu memantapkan kekuasaannya di Mesopotamia dan belahan barat Persia. Dia juga berhasil mempertahankan Baghdad dari ancaman Basisiri yang didukung oleh Khalifah Fatimiyah di Kairo.

Alp Arsalan, pengganti Toghril berhasil memberikan andil dalam berbagai bidang. Secara militer kehebatan dinasti Saljuk dibuktikannya dengan memberikan pukulan hebat atas pasukan Bizantium dalam perang Mazikert pada 1071 (464 H). peristiwa ini sangat berarti bukan hanya bagi semakin terbukanya Asia kecil buat migrasi suku-suku Turki, melainkan merupakan kemenangan awal penting bagi tentara sultan dan Khalifah melawan pasukan reguler kaesar. Sementara itu dalam bidang pemerintahan Alp Arsalan beruntung mendapatkan seorang wazir yang bijak dan ulet, Nizam al Mulk. Keahlian dan ide Nizam al Mulk dalam pemerintahan relatif dapat diketahui dari karyanya yang terkenal Siyasat namah. Kemudian masa pemerintahan Alp juga ditandai dengan berdirinya madrasah yang memiliki cabang di berbagai kota atas inisiatif Nizam al Mulk. Lewat madrasah semacam ini pengajaran dapat diberi standar dan dilaksanakan secara seragam. Namun akibat system madrasah semacam ini terdapat perkembangan ilmu masih tetap diperdebatkan  di antara para pegamat. Walaupun masa kekuasaan keluarga Saljuk telah tumbuh system pendidikan Islam yang lebi teratur. Alp Arsalan digantikan anaknya, Malik Syah pada tahun 1071 M/464 H.

  1. B.       Rumusan Masalah
    1. Bagaimanakah proses pembentukan Dinasti Salajiqah?
    2. Bagaimanakah kemajuan-kemajuan yang dicapai Dinasti Salajiqah?
    3. Bagaimanakah kemunduran Dinasti Salajiqah?
  1. C.      Tujuan Pembahasan
    1. Untuk mengetahui proses pembentukan Dinasti Salajiqah.
    2. Untuk mengetahui kemajuan-kemajuan yang dicapai Dinasti Salajiqah.
    3. Untuk mengetahui kemunduran Dinasti Salajiqah.

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.    Pembentukan Dinasti Salajiqah

Dinasti Salajiqah (Saljuk) berasal dari kabilah kecil keturunan Turki yaitu kabilah Auruq bersama kabilah-kabilah lainnya membentuk suatu rumpun yang bernama Ghuzz (Ogush) di Turkistan dan berimigrasi ke barat di bawah Saljuk bin Tuqaq, mereka menempati pegunungan di dekat laut Khawarisan dan selanjutnya menetap di Transokiana.
Di Transokiana mereka merintis suatu tatanan kehidupan yang penuh persahabatan dengan dinasti Samaniyah dan sama-sama memerangi bangsa Turki dan Kafir ketika dinasti Samaniyah runtuh pada tahun (384 H) Sultan Mahmud al-Ghaznawi mengijinkan orang Salajiqah menyeberang ke Khurasan, Bukhara, Asfahan dan Marwa serta menyebar ke Ray dan Khawarizmi.[1]

Sepeninggal Saljuk bin Tuqaq, estafet kepemimpinan Bani Saljuk digantikan oleh anaknya yang bernama israil. Melihat kekuatan yang semakin hari semakin kuat, maka pemimpin kaum Ghaznawi, Sultan Mahmud, mulai waspada dengan kekuatan ini. Karena itu, Sultan Mahmud mengundang Israil untuk berunding. Ketika itulah, Sultan Mahmud menangkap dan memenjarakan Israil. Orang-orang Saljuk kemudian mengangkat Mikail untuk memimpin mereka. Menyadari kekuatan Bani Saljuk tidak seimbang dengan kekuatan Sultan Mahmud, Mikail memilih berdamai. Perdamaian itu terwujud dalam waktu yang tidak lama, karena Sultan Mahmud menyerang Bani Saljuk yang menyebabkan meninggalnya Mikail.[2]

Pada tahun (429 H) pemimpin Salajiqah, yakni Tughril Beg berhasil memasuki Nisapur dan menduduki singgasan dinasti Ghaznawi dengan memakai gelar sultan. Setelah menguasai seluruh wilayah Khurasan Tughril Beg memproklamirkan bedirinya dinasti Salajiqah dan ternyata usaha itu mendapat pengakuan dari Khalifah al-Qaim bin Amr Allah di Baghdad dan hampir seluruh daerah-daerah Irak dikuasai oleh Tughril Beg. [3]

Sasaran utama agresi yang dilancarkan Tughril Beg adalah kota Baghdad yang secara praktis dikuasai oleh jenderal Arselan Bassaseri dari dinasti Buwaihi, dimana Tughril Beg memanfaatkan suasana chaos yang terjadi dalam dinasti Buwaihi dengan kekuatan tentara Tughril Beg berhasil menduduki Baghdad dan membebaskan Khalifah al-Qa’im dan sebagai penghargaan, maka khalifah menobatkannya sebagai penguasa Baghdad dengan gelar Rukn ad-Daulah Yamin Amir al-Mukminin.  Tughril memasuki Baghdad dan al-Malik ar-Rahim, sultan terakhir pemerintahan Buwahiyun. Dengan demikian, berakhirlah pemerintahan Buwahiyun.

Dan berdirilah pemerintahan Saljuk sebuah pemerintahan beraliran Sunni yang besar. Pemerintahan ini berhasil menyelamatkan Baghdad dari orang-orang Buwahiyun yang beraliran Syi’ah Rafidhah sesat serta berhasil menyelamatkan khalifah Bani Abbasiyah dari gerakan Albasasiri yang menyimpang. Albasasiri adalah salah seorang panglima perang yang berasal dari Turki yang menjadi pengikut al- Malik ar-Rahim. Dia telah membangkang atas tuannya dan terhadap Khalifah serta berusaha untuk mengambil kekuasaan. Maka khalifah Al-Qaim meminta bantuan kepada pemimpin Saljuk Tughril Beik yang saat itu datang ke Baghdag. Dia berhasil menumpas Albasasiri. Berkat keberhasilannya ini khalifah tunduk pada Tughril dan kokohlah kaki orang-orang Saljuk di Baghdad.

Orang-orang Saljuk memperlakukan Khalifah dengan segala rasa hormat dan takzim serta penuh loyalitas. Para sejarawan menyebutkan bahwa sebab utama dari semua itu adalah adanya kesamaan mazhab. Sedangkan, menteri teragung dari orang-orang saljuk adalah menteri yang berasal dari Iran yang bernama Nizhamul Muluk bersama dengan ketujuh anak dan cucu-cucunya.

Dinasti ini terbentuk pada tahun (429 H/1038 M), dan berlangsung hingga tahun (582 H/1194 M). Mengenai terbentuknya, terdapat dua versi; partama, ketika raja Turki yang bernama Baighu ingin menguasai wilayah kerajaan Islam, Dukak menentangnya dan akhirnya dia memisahkan diri dengan pengikutnya dan membentuk suatu komunitas yang terpisah dengan kerajaan.[4] Kedua, adalah sejak Ibnu Dukak memisahkan diri dari kerajaan bersama pengikutnya dan memasuki wilayah Islam dengan mendirikan pemukiman di dekat daerah Jand di mulut sungai Jaihun. Salajiqah yang berfaham Sunni berhasil memasuki Baghdad pada tahun 1055 M, dan menggantikan Buwaihiyah Syi’ah yang lebih dahulu menguasai wilayah kekuasaan Abbasiyah bagian timur. Pada ekspansi ke Barat, salajiqah harus menghadapi kekaisaran Bizantium dan ini merupakan salah satu sebab terjadinya perang salib.

Periode Salajiqah merupakan periode yang mempunyai arti yang istimewa dalam panggung sejarah, karena sultan sultan Salajiqah menjadi pelindung kepercayaan dan memainkan peranan utama dalam peperangan-peperangan melawan orang-orang salib. Mereka juga sangat terkenal karena perlindungan mereka terhadap kebudayaan Islam.
Pertumbuhan kekuatan Salajiqah, perselisihan dan kelemahan yang merupakan karakteristik pemerintahan pemimpin terakhir, dari bani Abbasiyah seakan memberi isyarat bagi kaum Salajiqah untuk melakukan aktivitas-aktivitas misionaris guna menancapkan kekuasaan di Irak dan Persia membawa kepada berdirinya pemerintahan Salajiqah di Baghdad.[5]
B. Kemajuan-Kemajuan Dinasti Salajiqah

Sejak berdirinya dinasti Salajiqah di bawah kekuasaan Tughril Beg sampai ke Malik Syah sungguh terdapat kemajuan dan puncak keemasan dari dinasti Salajiqah. Kemajuan-kemajuan yang telah dicapai antara lain adalah :

  1. Bidang politik

Kemajuan di bidang politik terlihat pada terkendalinya stabilitas politik dalam negeri. Di samping itu juga adanya akspansi ke beberapa daerah kekaisaran Bizantium yang dapat di porak-porandakan oleh Alp Arselan pada tahun 1871 M sehingga membuka peluang bagi Salajiqah untuk dapat menguasai Asia kecil yang pada waktu sebelumnya (bangsa Arab) selalu gagal menguasainya.[6] Pemerintahannya membagi menjadi lima wilayah:

  1. Salajiqah besar. Wilayahnya meliputi Khurasan, Ray, Jabal, Irak, Persia dan Ahwaz. Ia merupakan induk dari yang lain. Jumlah syekh yang memerintah seluruhnya delapan orang.
  2. Salajiqah Kirman. Wilayah kekuasaannya berada di bawah keluarga Qawurt Bek bin Daud bin Mikail bin Salajiqah. Jumlah syekh yang memerintah dua belas orang.
  3. Salajiqah Irak dan Kurdistan. Pemimpin pertamanya adalah Mughirs Ad-Din Mahmud. Salajiqah ini secara berturut-turut diperintah oleh Sembilan syekh.
  4. Salajiqah Suriah. diperintah oleh keluarga Tutush bin Alib Arsalan bin Daud bin Mikail bin Salajiqah, jumlah syekh yang memerintah lima orang.
  5. Salajiqah Ruum. Diperintah oleh keluarga Qutlumish bin Israil bin Salajiqah dengan jumlah syekh yang memerintah seluruhnya 17 orang.[7]

Kala itu, dinasti Salajiqah semakin besar dan meluas wilayahnya hingga daerah Nur Bukhara (sekarang Nur Ata) dan sekitar Samarkand. Hal itu karena koalisinya dengan dinasti Samaniyyah ketika terjadi persaingan politik dengaan dinasti Khainiyyah, keberpihakan ini dilakukan dengan alasan dinasti Samaniyyah membawa paham yang sama (Sunni) dan dengan niat untuk memperoleh wilayah di mulut sungai Jaihan sebagai pemukiman dan menjadikan kota Jand sebagai pusat kegiatan sosial politik mereka.

  1. Bidang sosial dan fisik keagamaan

Reputasi Malik Syah dan wazir Nizam al-Malik ternyata tidak hanya pada keberhasilan memancangkan kekuasaan dinasti Salajiqah sebagai suatu kekuatan yang besar dalam wilayah yang luas. Tetapi keduanya juga berhasil membangun negara dan masyarakat, jalan-jalan raya, jembatan-jembatan, irigasi, rumah sakit, perdagangan dan industri.[8]

Kemajuan dalam bidang fisik keagamaan seperti terlihat pada pembangunan sarana-sarana peribadatan, misalnya masjid al-Jami di Isfahan, masjid Mahmud Syahdi Garyaikan, masjid Burjian, masjid Industan dibangun pada tahun 1158, dan masih banyak lagi masjid-masjid yang lainnya. Keberhasilan ini tentu tidak lepas dari faktor stabilitas politik dan ekonomi yang mantap.

  1. Bidang ilmu pengetahuan

Seperti yang dikemukakan terdahulu, Malik Syah adalah seorang cendikiawan yang sangat cerdik dan pelindung pengetahuan. Nizam Malik adalah seorang wazir yang berasal dari keturunan Persia yang sangat berjasa dalam pengembangan ilmu pengetahuan ketika itu. Ia adalah tokoh yang sangat cemerlang pada masa pemerintahan Alp Arselan dan Malik Syah. Pada tahun 1065-1067 Nizam al-Malik mendirikan sebuah lembaga perguruan tinggi Islam yang dikenal dengan nama al-Madrasah al-Nizhamiyah di Baghdad dan menjadi model bagi lembaga-lembaga perguruan Islam masa itu.[9]

Ada dua institusi penting yang berkembang pesat pada masa pemerintahan dinasti Salajiqah, yakni madrasah dan rumah sakit. Pada masa itu, madrasah dan rumah sakit dibangun di mana-mana, madrasah, perpustakaan dan rumah sakit bermunculan di wilayah-wilayah yang dikuasai dinasti Salajiqah, seperti kota Baghdad, Merv, Isfahan, Nishapur, Mosul, Damaskus, Kairo, Aleppo, Amid (Diyarbakir), Konya, Kayseri dan Malatya. Institusi tersebut berkembang menjadi pusat kebudayaan Salajiqah Islam. Pada masa pemerintahan dinasti Salajiqah, arsitektur bangunan banyak yang terbuat dari batu-batuan yang tahan lama. Sehingga berbagai macam bangunan yang dibangun bangsa Salajiqah kebanyakan masih bertahan selama beberapa abad. Salah satu bukti bahwa ilmu pengetahuan dan sastra tidak padam pada masa pemerintahan dinasti Salajiqah adalah banyaknya para ilmuwan dan intelektual muslim yang terus mengembangkan ilmunya.

Beberapa ilmuwan dan budayawan terkemuka yang lahir pada masa itu antara lain, Al-Juvayni, Abu Ishak, Al-Shirazi, Umar Al-Hayyan, Al-Badi Al-Usturlabi, Abu Al-Barakat Habatullah bin Malka Al-Baghdadi, Samaf Al-Magribi, Syarifuddin Al-Tusa, Kamal Ad-Din bin Yunus, Shihabuddin Yahya bin Habis Al-Suhrawardi, Fahr Ad-Din Ar-Razi, Ibnu Al-Razza Al-Jazari, Ibnu Al-Asir serta Saifuddin Al-Amidi.[10]

Pada era kepemimpinan sultan dinasti Salajiqah Maliksah I (1072-1092) di dunia Islam pernah berdiri observatorium besar di kota Isfahan. Sedangkan seorang ilmuwan bernama umar al-hayyan dan teman-temannya memanfaatkan observatorium tersebut untuk melakukan penelitian hingga akhirnya menghasilkan karya berjudul Zic-I Malikshahi atau (buku tabel astronomi) dan Takwim-I jalali (kalender jalalain).[11]

Pada masa itu, seorang ilmuwan bernama Al-Usturlabi menuliskan bukunya yang berjudul Al-Zij Al-Mahmudi (buku tabel astronomi Mahmudi). Sedangkan, seorang ilmuwan yang bernama Abu Mansur membuat karya berjudul Al-Zij Al-Senceri (buku tabel astronomi Senceri). Istana para sultan Salajiqah baik di Baghdad, Isfahan serta Merv selalu dipenuhi para pelajar, ilmuwan juga para penulis. Mereka menuliskan karya-karyanya baik dalam bahasa Arab maupun bahasa Persia. Bahkan literature Islam Persia mulai mendunia di bawah dnasti Salajiqah.

Beberapa penulis besar yang karyanya masih bisa dinikmati pada saat ini antara lain karya Jalaluddin Rumi Hakani, Senayi, Nizami, Attar, Mevlan dan Sa’di. Para penulis besar tersebut hidup dan mempersembahkan karya-karyanya kepada para sultan dinasti Salajiqah. Kondisi ekonomi dan kesehatan masyarakat membaik, di bawah kekuasaan dinasti Salajiqah berhasil meningkatkan aktivitas dan prestasi masyarakatnya dalam bidang literature, seni dan ilmu pengetahuan. Peningkatan aktivitas masyarakat dalam bidang seni dan ilmu pengetahuan ini mendapat dorongan yang signifikan dari pemerintah dinasti Salajiqah.[12]

Sejak abad 4 M, ratusan madrasah ditemukan tersebar luas di Anatolia. Hampir setiap wilayah Anatolia terdapat madrasah. Hal ini jelas menunjukkan bahwa dinasti Salajiqah sangat memperhatikan dunia pendidikan bagi rakyatnya. Gambaran berbeda terlihat di pusat kekuasaan islam di wilayah yang dikuasai bangsa lain seperti di Mesir, Suriah dan Palestina, madrasah hanya ditermukan di kota-kota besar saja, tidak seperti di Anatolia, baik di desa dan di kota pemerintah membangun madrasah. Madrasah-madrasah yang dibangun dinasti Salajiqah tersebut masih banyak yang berdiri dengan tegak hingga saat ini dan dapat ditemukan di berbagai kota besar, kota kecil juga desa yang berada di Anatolia.

 

  1. C.       Kemunduran Dinasti Salajiqah

Berbagai faktor penyebab kemunduran dinasti Salajiqah yaitu :

  1. Faktor internal

Kebesaran dan persatuan dinasti Salajiqah berakhir dengan kematian sultan Malik Syah. Sultan-sultan sesudahnya tidak ada lagi yang mampu mempersatukan rakyatnya, bahkan muncul perang saudara di antara kalangan keluarga istana untuk saling memperebutkan kekuasaan sehinggga dalam kondisi seperti itu Salajiqah yang dulunya kuat dan terkenal di panggung sejarah beralih menjadi sebuah kerajaan yang lambat laun menjadi lemah.

Setelah kematian Malik Syah, dinasti Salajiqah mengalami perpecahan dan kemunduran drastis. Hal ini membuka peluang bagi dinasti lainnya seperti Khawarijan Shakis yang semula merupakan gubernur Salajiqah dan akhirnya memberikan peluang kepada pasukan Mongol untuk mengadakan penyerbuan sehingga akhirnya adminstrasi pemerintahan dinasti Salajiqah diambil alih oleh para gubernur dan jenderal Mongol dan para pegawai dan tentara Salajiqah dibubarkan, dan kondisi ini diperburuk lagi dengan beban pajak yang terlalu tinggi bagi masyarakat Turki, yang pada gilirannya nampaklah gejala kemiskinan dalam kehidupan sosial

Kaum Saljuq telah mengamalkan sistem ini sejak zaman Tughrul Bey. Setiap pemerintah wilayah mempunyai kekuasaan otonomi berhubung dengan hal ikhwal dalam wilayahnya, begitu juga berhak menaklukkan kawasan-kawasan berdekatan. Kekuasaan Sultan-sultan adalah meliputi berbagai wilayah di masa kekuatannya, tetapi apabila kekuatannya merosot dan kerajaan berpecah-belah, Sultan-sultan mulai kehilangan kekuasaan tersebut dan pemerintah-pemerintah wilayah berkuasa penuh ke atas hal ikhwal wilayah masing-masing.[13]

Sistem pemerintahan yang demikian itu, telah menanamkan bibit-bibit perpecahan yang dialami oleh kerajaan Saljuq, sehingga dari perpecahan tersebut maka lahir lima puak kaum Saljuq, yaitu kaum Saljuq ‘Izam, kaum Saljuq Syiria dan kaum Saljuq Roma. Ternyata bahwa sebagian dari puak-puak ini berasal dari kaum Saljuq ‘Izam, seperti kaum Saljuq Iraq, dan sebagian pula berada di kawasan yang baru dimasuki seperti kaum Saljuq Roma.

Terjadi pemberontakan golongan Ismailiah dari kelompok Hassyasyin, perpecahan-perpecahan dalam negeri diakibatkan karena perluasan Kekuasaan Saljuq dan hasil dari cara hidup kaum Saljuq yang bersuku-suku, dan pengkhianatan sebagian pegawai pemerintah yang pernah menjadi hamba abdi kaum Saljuq, seperti Raja-Raja Khuarizm dan Ghur. Tetapi faktor keruntuhan dalam negeri yang terpenting sekali ialah berdirinya wilayah-wilayah Amiriyah Utabak.

Sumber wilayah-wilayah Ameriyah ini ialah kawasan-kawasan yang diberikan oleh wazir Nizamul Mulk kepada pemimpin-pemimpin tentara dan tokoh-tokoh kerajaan yang terkemuka sebagai ganti upah mereka biasanya pajak-pajak dikutip dari seluruh negeri untuk membiayai laskar-laskar dan tiada seorang pun diberi hak memiliki tanah. Apabila Nizamul Mulk mendapati hasil kutipan pajak sukar diperoleh dari seluruh negeri maka laskar-laskar itu diberikan tanah-tanah sebagai upahan. Pada mulanya kawasan-kawasan itu tidak sedikitpun membahayakan integritas kerajaan. Tetapi kerjaan mulai melemah, setiap pemilik tanah itu merasa dirinya sebagai Amir dan pemerintah di kawasan tanah masig-masing serta memisahkan diri dari kaum Saljuq. Dengan hal tersebut maka lahirlah Utabak Damsyik, Utabak Mausil, Utabak Jazirah dan sebagainya. Sebagian Utabak menggunakan beberapa orang untuk memperluas pengaruh dan kekuasaan atas nama Amir Saljuq[14]

Khalifah Abbasiyah di Baghdad telah mengambil kesempatan dari kelemahan kaum Saljuq dan dari gerakan-gerakan pemisahan yang telah disebutkan itu, serta mengumumkan kemerdekannya memerintah di Baghdad dan kawasan-kawasan di sekitarnya. Dengan itu bermulalah zaman terakhir bagi pemerintahan Abbasiyah. Khalifah-khalifah Abbasiyah di zaman itu ialah :

  1. an Nasr (575-622 H). Menyaksikan berakhirnya kaum Saljuq dan seterusnya bersendirian memerintah di Baghdad tahun 590.
  2. az Zahir (622-623 H)
  3. al Mustansir (623-640 H)
  4. al Musta’sim (640-666 H). Khalifah Abbasiyah yang terakhir dan telah dibunuh oleh kaum Moghul yang menyerang dunia Islam serta menamatkan pemerintahan Abbasiyah.
  5. Faktor eksternal

Dinasti Salajiqah mengalami disintegrasi yang ditandai dengan terjadinya perang salib yang pecah pada tahun 1097 M, dan pemberontakan yang dilakukan oleh kaum Hasassiyyin yang mendapat dukungan dari Bani Fatimiyah di Mesir yang telah berhasil membunuh Nizam al-Malik seeorang pedana menteri pada masa kekuasaan Alp Arselan dan Sultan Malik Syah. Dan ditambah dengan datangnya pasukan Mongol di bawah pimpinan Jengis Khan yang menyerbu dan menguasai daerah kekuasaan Islam yang pernah dikuasai oleh dinasti Salajiqah dan pada saat dikuasai oleh Halagu Khan, maka inilah akhir dari segala dinamika yang pernah diraih dan dicapai oleh dinasti Selajikah di pentas sejarah kebudayaan Islam kala itu.[15]


[1] Ahmad Syafi’I Ma’arif, M. Amin Abdullah, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, Cet. I, (Yogyakarta: Pustaka Book Publisher, 2007), 203.

[2] Fuadi, Imam. Sejarah Peradaban Islam, (Yogyakarta : Teras, 2011), 198.

[3] Ibid, 199.

[4] Badri Yatim. Sejarah Peradaban Islam: Dirasah Islamiyah II, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2000), 265.

 

[5] W. Montgomery Watt. Kejayaan Islam: Kajian Kritis dari Tokoh Orientalis, (Yogyakarta: Tiara Wanaca Yogya, 1990), 145.

[6] M. Dhiauddin Rais. Teori Politik Islam, (Jakarta: Gema Insani, 2001), 313.

[7] Fuadi, Imam. Sejarah Peradaban Islam, (Yogyakarta : Teras, 2011), 202.

[8] Dede Rosyada. Hukum Islam dan Pranata Sosial, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 1996) 231.

[9] Ibid, 235.

[10] Ibid, 236.

[11] Ibid 237-238.

[12] Ibid, 239

[13] Dede Rosyada. Hukum Islam dan Pranata Sosial, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 1996) 237.

[14] Ibid, 241.

[15] Ibid, 242-243.

Iklan